Total Pageviews

Saturday, November 27, 2010

Gas Maut Pengatur Tekanan Darah


Hidrogen Sulfida (H2S) merupakan gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar, dan baunya menyengat hidung seperti bau telur busuk. Rangkaian kimia gas ini merupakan hidrida kovalen yang secara kimiawi terkait dengan air (H2O) karena oksigen dan sulfur.

H2S atau juga dikenal dengan gas asam atau gas limbah (sewer gas) timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik). Gas ini bisa muncul dari aktivitas gunung berapi dan gas alam. Seringkali gas H2S meledak di lautan lepas.
Contohnya ledakan gas H2S di Samudra Atlantik, pesisir pantai Namibia, Afrika. Fenomena ini tertangkap oleh Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Tera NASA. Satelit tersebut menangkap gambar ledakan H2S pada 2004.
Dengan adanya ledakan gas itu, masyarakat setempat sudah bisa memprediksikan bakal ada jutaan ikan mati akibat gas mematikan tersebut. Setiap kali muncul bau tak sedap, penduduk memang sudah bisa memprediksikan hal tersebut.
Gas H2S ini dihasilkan dari tanaman yang membusuk di dasar Samudra Atlantik, yang di dalamnya arus samudra yang kuat membawa air laut dalam yang kaya gizi ke atas permukaan laut.
Air tersebut memberikan makanan kepada tanaman mikroskopik, semacam fitoplankton.
Ketika tanaman itu mati, mereka tenggelam di dasar laut. Bakteri akan menguraikan tanaman yang mati ini. Berkat bantuan oksigen, tanaman itu akan terurai saat dalam proses pembusukan. Lantas, bakteri anaerob mengambil ahli proses penguraian ini. Bakteri-bakteri ini mengeluarkan gas H2S sebagai produk sampingnya.
Selanjutnya, gas ini akan terkumpul di dasar laut. Saat gas itu mencapai ke permukaan, kombinasi hidrogen dan oksigen yang membentuk air membuat sulfur putih padat, yang pada gilirannya menghasilkan lapisan endapan ke dalam lautan. Dengan sendirinya, gas Hidrogen sulfida menjadi racun untuk biota laut seperti ikan.
Selain mematikan bagi hewan laut, gas H2S nyatanya bermanfaat bagi kesehatan, khususnya untuk megatur tekanan darah. Guangdong Yang PhD dari University of Saskatchewan dari Lakehead University, Kanada, melakukan percobaan ini terhadap tikus di labolatorium.
Dr Yang dan rekan-rekannya meneliti dua kelompok tikus. Seperti dilansir jurnal Science, kelompok tikus pertama adalah kelompok yang didesain sedemikian rupa tidak memiliki CSE (enzim yang diduga menghasilkan hidrogen sulfida), sedangkan sisanya merupakan kelompok tikus normal dengan enzim CSE.
Kemudian tim peneliti mengukur tekanan darah kedua kelompok tikus tersebut. Tikus yang memiliki kadar Hidrogen Sulfida yang rendah ternyata lebih tinggi tekanan darahnya, yaitu sekitar 20 poin.Namun ketika tikus tersebut diberikan tambahan hidrogen sulfida, tekanan darahnya mengalami penurunan. Tim ilmuwan ini berpendapat obat-obatan baru yang berdasarkan hidrogen sulfida berpotensi untuk dikembangkan mengobatu tekanan darah tinggi pada manusia.

No comments:

Post a Comment